Ketika Jarak Dilenyapkan dan Diri Ditinggikan

Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapis-lapis langit hingga Sidratul Muntaha. Dalam perspektif sufistik, peristiwa ini adalah isyarat tentang kemungkinan kedekatan hamba dengan Tuhan, ketika jarak ruang dan waktu dilenyapkan oleh kehendak Ilahi, dan diri manusia ditinggikan oleh kesucian batin.

Allah berfirman:

سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَى

Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…(QS. al-Isrā’: 1)

Para sufi berhenti lama pada kata ‘abdihi (hamba-Nya). Al-Qusyairi menegaskan bahwa derajat kehambaan sejati justru menjadi pintu kemuliaan tertinggi. Nabi diangkat bukan karena gelar, kuasa, atau keistimewaan duniawi, melainkan karena kesempurnaan ubudiyyah-nya.

Mi‘raj sebagai Perjalanan Batin

Dalam tasawuf, Isra’ Mi‘raj dibaca sebagai peta perjalanan ruhani (suluk). Imam al-Ghazali menulis bahwa mi‘raj Nabi adalah kebenaran sejarah, namun sekaligus simbol kemungkinan mi‘raj batin bagi para salik bukan dengan jasad, tetapi dengan hati yang disucikan.

Ia menulis:

فَإِنَّ لِلْقَلْبِ مِعْرَاجًا كَمَا أَنَّ لِلْجَسَدِ مِعْرَاجًا

sesungguhnya hati memiliki mi’raj sebagaimana jasad memili mi’raj. (al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din)

Mi‘raj batin ini tidak ditempuh dengan kecepatan Buraq, tetapi dengan tazkiyatun nafs, adab, dan istiqamah. Setiap lapisan langit yang dilewati Nabi menjadi isyarat maqām: taubat, sabar, ridha, hingga fana’ dalam kehendak Allah.

Shalat, Jejak Mi‘raj yang Diwariskan

Puncak Isra’ Mi‘raj adalah perintah shalat, bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalur kedekatan. Rasulullah SAW bersabda:

الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ

Shalat adalah mi‘rajnya orang beriman. (HR. al-Baihaqi)

Bagi para sufi, shalat bukan hanya gerakan, melainkan kehadiran (hudur). Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari mengingatkan bahwa shalat tanpa hati yang hadir hanyalah rutinitas tubuh, bukan perjalanan ruh.

Sidratul Muntaha dan Batas Akal

Ketika Nabi Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha, bahkan Jibril pun berhenti. Di sini, para arifin membaca pesan halus di mana akal, ilmu, dan makhluk memiliki batas, sementara cinta dan penyerahan diri melampaui batas itu.

Ibn ‘Arabi menulis bahwa Sidratul Muntaha adalah batas terakhir pengetahuan makhluk, tempat manusia hanya bisa hadir, bukan memahami. Di sinilah Nabi Muhammad SAW berdiri bukan sebagai rasul pembawa risalah, tetapi sebagai hamba yang sepenuhnya diserap oleh hadirat Ilahi.

Bagi santri, Isra’ Mi‘raj adalah undangan sunyi bahwa di balik rutinitas ngaji, khidmah, dan adab keseharian, ada kemungkinan kenaikan batin perlahan, tanpa sorak, tanpa klaim.

Mi‘raj tidak selalu berarti naik ke langit, tetapi turunnya ego, jernihnya niat, dan hadirnya Allah dalam setiap sujud.

Dan barangkali, sebagaimana Nabi Muhammad SAW kembali ke bumi setelah mi‘raj, seorang salik pun diuji bukan pada saat naiknya, tetapi pada bagaimana ia kembali lebih rendah hati, lebih lembut, dan lebih setia pada kemanusiaan.

Badiul Hadi, Asshomadiyah Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *